Pada saat ini, banyak saya jumpai mahasiswa yang mengatakan
bahwa organisasi menghambat akademik, menghambat aktivitas dan membuang waktu
seperti tidak ada waktu untuk jalan-jalan dan lain sebagainya.
Pendapat-pendapat itu pasti sering kamu dengar dari sebagian teman kamu di
kampus, “Kenapa kamu ikut organisasi? Apa
tidak capek? Apa tidak keteran dengan jam kuliah? Apa tidak ketinggalan mata
kuliah? Apa tidak takut IPK rendah? Organisasi membuat kita tidak bisa
nongkrong dan jalan-jalan.” Pertanyaan-pertanyaan itu pasti sering kamu
dengar, tidak hanya satu atau dua orang saja.
Orang-orang yang sudah diorganisasi sudah bisa dibilang kebal dengan
pertanyaan tersebut dan menjadi hal yang tidak asing
lagi. Ada dua hal yang membuat mereka mengutarakn pertanyaan tersebut:
- Sudah pernah ikut organisasi, namun tidak dapat membagi waktu dengan benar sehingga segala aktivitas jadi terhambat
- Tidak pernah ikut organisasi tapi melihat orang di sekelilingnya banyak yang tidak bisa membagi waktu antara organisasi dan akademik sehingga membuatnya takut untuk terjun kedalam organisasi.
Organisasi merupakan sebuah system
kerja sama antara dua orang atau lebih yang memiliki visi dan misi yang sama
serta teroganisir. Sistem tersebut merupakan kesatuan organis yang menyeluruh
dan saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, serta bersifat dinamis. Tapi,
sebagian mahasiswa menganggap bahwa pengertian tersebut tidak akan bisa membuat
orang dengan mudah memahami arti penting dari keterlibatan orang lain dalam
sebuah organisasi. Mereka masih menganggap bahwa orang yang berada dalam suatu
organisasi tidak akan bisa mengatur waktu antara berorganisasi dan belajar.
Misalnya antara kuliah dengan kegiatan organisasi. Persepsi tersebut justru
malah membuat mind set mahasiswa itu percaya. Pengaruh tersebut
selalu membayangi pikiran mahasiswa yang baru terjun ke dunia organisasi.
Padahal, apa yang ada di mind set mahasiswa itu sendiri apabila terus
difikirkan malah akan membuat hal tersebut menjadi nyata. Sehingga mahasiswa tersebut seharusya mengatur ulang mind set yang awalnya
memisahkan antara berorganisasi dengan kuliah dengan menyatukan kedua hal
tersebut. Mengapa demikian, karena dengan memisahkan mereka akan membuat kita
mempunyai dua beban yang berat. Tapi, jika kita menyatukan antara satu dengan
yang lainnya maka beban akan menjadi lebih ringan dan perjalanan antara organisasi
dan kuliah pun akan berdampingan.
Bila diamati berdasarkan
aktivitasnya, terdapat dua tipe mahasiswa yaitu pertama tipe mahasiswa yang
apatis terhadap kegiatan organisasi kemahasiswaan dan kedua adalah tipe
mahasiswa aktif di organisasi kemahasiswaan (aktivis). Kedua tipe tersebut
sangat jelas terlihat perbedaannya.
Mahasiswa yang apatis itu hanya
memikirkan dunia perkuliahannya saja dan segala sesuatunya selalu diukur dengan
pencapaian kredit mata kuliah dan indeks prestasi yang tinggi serta berupaya
menyelesaikan kuliah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Namun biasanya tipe
mahasiswa seperti ini, akan mengalami kelemahan dalam hal sosialisasi diri
dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Dampak negatifnya bisa saja
dirasakan ketika telah memasuki ‘dunia kerja’. Tipe mahasiswa ini
lebih pada sikap pragmatis yang dimilikinya yaitu kuliah secepatnya, lulus jadi
sarjana dan ‘siap kerja’. Sesederhana itukah kita?
Nyatanya dunia kerja tidak
sekedar menuntut kualitas kesarjanaan, tetapi juga menuntut kualitas
sosialisasi. Apalagi dunia kerja yang menuntut kerja sama dan interaksi yang
lebih intensif, serta mengutamakan kemampuan logika berbahasa. Sarjana yang
hanya sekedar mengandalkan logika dunia keilmuannya tentu akan merasa kesulitan.
Sedangkan tipe mahasiswa aktivis
adalah mahasiswa yang selain menekuni aktifitas perkuliahan tapi juga
menyempatkan untuk mengikuti organisasi kemahasiswaan. Keaktifan di organisasi ini
biasanya dilandasi oleh bakat, hobi, tuntutan jiwa organisasi dan kepemimpinan,
tuntutan sosial atau berupa pelarian dari aktivitas perkuliahan yang kadang
dianggapnya membosankan.
Konsekuensi logis dari sosok
mahasiswa seperti ini tentunya konsentrasi pemikiran dan waktu akan terbagi
menjadi dua, satu sisi pada perkuliahan dan sisi yang lain pada kegiatan
organisasi.
Namun, bila dilihat dari
kemampuan berorganisasi dan kepemimpinan serta sosialisasi tentu akan sangat
berbeda bila dibandingkan dengan mahasiswa yang apatis. Pengalaman dalam
mengungkapkan realita dan bermain logika dalam berbahasa semakin mematangkan
diri sebagai sosok mahasiswa. Apalagi bila dikaitkan dengan fungsi lain dari
kampus sebagai agen perubahan (agent of
change), maka peran para mahasiswa ini tak dapat dilihat dengan sebelah
mata. Mereka selalu menjadi motor penggerak dalam menyuarakan aspirasi
masyarakat dalam menyikapi tuntutan-tuntutan kritis masyarakat dan permasalahan
kesehatan, sosial, ekonomi dan politik lainnya.
Kecuali bagi mahasiswa yang
membuat aktifitasnya di organisasi kemahasiswaan hanya sebagai pelarian dari
aktifitas perkualiahannya. Kegiatan kuliah, penyelesaian tugas, praktikum,
aktualisasi ide dan kajian keilmuan, dan sebagainya malah terabaikan.
Organisasi kemahasiswaan hanya dijadikan tempat untuk menyenangkan diri. Sosok
mahasiswa aktivis ini tentunya bukan sosok mahasiswa yang diharapkan. Karena
memang kewajiban utama seorang mahasiswa adalah mengikuti perkuliahan dengan
penuh tanggung jawab.
Semua orang pasti menginginkan
untuk menjadi sarjana plus yaitu sarjana yang tidak hanya pintar
dalam keilmuannya tapi juga mampu bersosialisasi dan berorganisasi dengan baik
dan bertanggung jawab dengan lingkungannya serta peka terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
Oleh karena itu, kita harus
memperbaiki pemahaman bagaimana cara kita berorganisasi, dari berpikir
bahwasanya organisasi merupakan sebuah alasan ketika prestasi kita menurun di
bidang akademik menjadi pola pikir yang menjadikan sebuah organisasi menjadi
sebuah prestasi yang dapat di banggakan. Terbukti dengan prestasi banyaknya
mahasiswa yang mengikuti organisasi, hidup dalam perkuliahan jauh lebih baik
dari pada yang tidak mengikuti organisasi, mereka yang mengikuti organisasi
cenderung lebih aktif dan memiliki pemikiran yang jauh lebih baik dari pada
yang tidak berorganisasi ketika mereka berada di dalam kelas, dan hal itu dapat menampik alasan para
mahasiswa yang terkena sanksi bahwa organisasilah yang membuat mereka tidak
lagi berprestasi. Mereka yang berkata demikian sebenarnya mereka tidaklah
menghayati arti dari organisasi, atau mereka dalam mengikuti organisasi hanya
main-main.
Jika kita teliti lebih lanjut
prestasi dalam bidang akademik dapat di kaitkan dengan prestasi di bidang organisasi,
seseorang yang hanya dapat berprestasi dalam bidang akademik cenderung susah
dalam bersosialisasi ketika mereka lulus nanti ini dikarnakan kurangnya
pengalaman yang mereka dapatkan, toh kelak ketika kita lulus nanti kita akan
bekerja dan dalam bekerja itu merupakan suatu organisasi yang dipimpin oleh
seorang Direktur Perusahaan (jika kita bekerja di sebuah perusahaan), Ketua
Yayasan dan Kepala Sekolah (jika kita menjadi seorang guru), jika kita jarang
berorganisasi atau malah tak pernah berorganisasi mereka akan cenderung sulit
untuk beradaptasi dengan suasana yang ada dalam lingkungan kerja. Sebaliknya
seseorang yang senang berorganisasi ia akan dapat bersosialisasi dalam bekerja
dengan baik, karena ia sudah terbiasa dengan organisasi sehingga ia dapat
bekerja dengan baik.
Sebagai mahasiswa hendaknya mulai membiasakan diri
dengan organisasi yang telah tersedia disekitar lingkungan kampus kita. Mengapa
dikatakann sukses dalam berorganisasi dan akademik akan menjamin kesuksesan di
massa yang akan datang? Padahalkan ketika kita menyatukan keduanya sangatlah
sulit bahkan tak jarang mahasiswa yang terbengkalai kuliahnya karena ke-asyikan
dalam berorganisasi. Oleh karena itu, dikatakan bahwa orang yang sukses atau
berprestasi dalam bidang akademik dan organisasi akan menjamin kesuksesan di
massa yang akan datang, dikarnakan orang yang dapat menyatukan keduanya dengan
baik orang itu dapat membagi waktu dengan baik antara berorganisasi dan dengan
belajar, sehingga ia akan sukses dalam kehidupan massa yang akan datang.
Bahkan ada yang berkata bahwa
”Mahasiswa, akademik dan organisasi, kalimat ini memang sudah sangat singkron
dan sudah begitu melekat untuk disandingkan menjadi elemen kata yang tidak bisa
dipisahkan. Hal ini dikarenakan semua aktivitas kampus yang ada saat ini pasti
ada kaitannya antara dunia akademik dan organisasi. Kampus merupakan kawah
candradimuka bagi para mahasiswa sebagai insan kampus yang masih idealis yang
akan menentukan kemajuan masa depan sebuah bangsa. Mahasiswa harus bisa memahami
fungsi serta perannya. Mahasiswa sebagai insan akademis harus bisa menunjukkan
keintelektualanya dibuktikan dengan prestasinya. Sedangkan mahasiswa sebagai
insan pencipta dan pengabdi bisa ditunjukan dengan salah satunya aktif di
organisasi. Karena dengan ikut organisasi jiwa – jiwa sosial, pengembangan soft
skill akan terbentuk”
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan diatas kita
harus dapat menjadi seorang mahasiswa yang mampu sukses atau berprestasi dalam
bidang akademik dan organisasi, karena banyak mahasiswa yang hanya berprestasi
dalam bidang akademik, banyak pula mahasiswa yang hanya berprestasi dalam
bidang organisasi saja, tapi tidak banyak mahasiswa yang berprestasi dalam
kedua bidang tersebut, karena ini sangat sulit sekali untuk dilaksanakan secara
bersamaan karena banyak sekali hal yang bakal di korbankan.
Namun dari dulu hingga sekarang
ada stigma bahwa antara organisasi dan akademik tidak bisa berjalan bersama.
Sehingga jika seorang unggul di bidang organisasi maka akademiknya akan kalah.
Demikian sebaliknya jika seorang mahasiswa mempunyai IPK tinggi, jiwa
organisasinya tidak jalan. Sebenarnya stigma tersebut terbentuk hanya
berdasarkan kepada sedikit kasus aja. Terkesan subjektif dalam menyimpulkannya.
Jadi stigma tersebut malah akan menjadi penghambat dari jiwa kreatifitas
mahasiswa. Mahasiswa akan mandeg dan takut untuk berorganisasi. Mahasiswa yang
sudah terlanjur ikut organisasi akan ogah belajar karena sudah terpatri dalam
alam pikirnya bahwa tidak mungkin akan mendapat prestasi yang bagus betapapun
hebatnya ihtiar yang dilakukan. Stigma di atas tidak benar adanya dan hanya
menjadi alasan pembenar bagi orang – orang yang malas dan orang yang tidak mau
berubah. Sudah banyak bukti di sekeliling kita bahwa mahasiswa bisa berprestasi
dan unggul dalam organisasi secara bersamaan.
Apa saja sih yang menyebabkan
kita sebagai mahasiswa dapat berprestasi dalam bidang akademik dan organisasi?
Pada intinya hanyalah niat yang ikhlas dalam menunaikan kedua-duanya, mampu
membagi waktu dengan baik, kapan ia harus belajar dan kapan dia harus
berorganisasi?, tak jarang para aktivis memiliki sebuah jadwal kegiatannya
dalam jangkau mingguan, bulanan bahkan memiliki rancangan apa yang akan ia
lakukan di 1 tahun, 5 tahun bahkan 10 tahun yang akan datang. Jadwal seperti
ini sangatlah penting bagi seorang mahasiswa karna ia dapat membagi dengan baik
waktu yang ada, (kapan ia harus belajar dan kapan ia harus berorganisasi?).
Seorang mahasiswa dapat dikatakan berprestasi dalam
bidang akademik apabila IPK yang ia miliki lebih besar dari 3,00, sedangkan
prestasi dalam organisasi tidak dapat diukur dalam angka-angka, tetapi dapat
dinilai dari perubahan yang baik pada diri mahasiswa menjadi lebih baik dan
dapat pula dilihat dari segi kesuksesan mereka dalam mengadakan suatu acara
atau agenda. Mengapa demikian?
Hal ini dikarnakan akademik lebih
cenderung pada penilaian-penilaian dari hasil ujian-ujian yang diadakan oleh
pihak universitas dan memiliki standar minimal, sedangkan prestasi organisasi
dinilai dari segi kematangan seorang mahasiswa dalam berorganisasi dan tidak
memiliki standar, karena dalam sebuah organisasi terdiri dari banyak karakter
yang berbeda-beda dan memiliki kelebihan masing-masing (ada yang pandai dalam
bernegosiasi dengan birokrat, ada yang bisa memenej organisasi dengan baik, dan
ada pula yang memiliki keunggulan dalam bidang-bidang lainnya).
Jadikan suatu organisasi menjadi
pendamping yang baik bagi prestasi akademik kita dan jangan jadikan pendamping
yang menghancurkan prestasi akademik kita. Karena dengan menjadikan organisasi
pendamping yang baik bagi prestasi akademik, kita akan menjadi seorang yang
memiliki prestasi yang luar biasa karena dapat mengawinkan prestasi akademik
dan prestasi organisasi, meski sulit namun tidak sedikit dari mahasiswa yang
telah mampu mengawinkan kedua prestasi tersebut. Hasilnya mereka kini sukses di
dunia mereka masing-masing. Oleh karena itu kita harus bisa melakukannya karena
kita juga seorang mahasiswa yang ingin berprestasi di kemudian hari yang akan
datang (kalau bahasa gaulnya sih… kalau mereka bisa kenapa kita gag bisa??)
Mengapa sukses dalam mendapatkan
kedua prestasi tersebut mampu menjamin massa depan kita? Dalam bidang akademik
sudah dapat kita ketahui bersama nilai akademik yang bagus akan mempengaruhi
dimana kelak kita akan ditempatkan ketika kita kerja, namun jangan lupakan
manfaat kesuksesan dalam berorganisasi, diantaranya kita dapat menjadi lebih
percaya diri, mampu menjadi seorang pembicara yang baik, mudah bersosialisasi
dan banyak menambah wawasan yang di dunia akademik kita tidak dapat
mendapatkannya, hal ini lah yang dibutuhkan dalam bekerja kelak, selain itu
dikarenakan kita sudah terbiasa dalam membagi waktu dengan baik kita dapat
menerapkan kebiasaan baik kita di dunia kerja kita, insaallah akan menjadikan
kita seorang pekerja yang baik dan akan mendapatkan posisi yang terbaik dari
kesuksesan kita massa lampau yakni mampu berprestasi dalam bidang organisasi
dan akademik.
Mulai saat ini kita sebagai
mahasiswa yang menginginkan kesuksesan datang di kehidupan kita maka kita harus
mengubah paradigma di pikiran mahasiswa yang berpikiran kalau organisasi hanya
bisa merusak atau memberantakan semua prestasi yang akan di dapatkanya di
bidang akademik menjadi sebuah paradigma/ pemikiran tengtang organisasi
bukanlah perusak atau penghalang prestasi kita di bidang akademik bahkan dengan
organisasi kita sebagai mahasiswa dapat menjadi mahasiswa yang berprestasi
dalam bidang akademik dan bidang organisasi. Kenapa harus berorganisasi? Pada
dasarnya organisasi sama pentingnya dengan akademik, seorang mahasiswa belum
dikatakan mahasiswa jika ia belum pernah merasakan apa yang dinamakan
organisasi. Jika seorang mahasiswa kegiatannya hanya belajar, itu tidak beda
jauh dengan siswa hanya berganti kostum saja.
|
TTL : Tembilahan, 01 Januari 1993
Angkatan : Tahun 2011 Prodi IKM Peminatan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku STIKes Hang Tuah Pekanbaru. Lulus : Juni 2015 3 Tahun 8 Bulan IPK 3,74 Motto Hidup : Hidup adalah tanggung jawab, oleh karena itu jangan mengatakan tidak sebelum mencoba Social Media :
Pengalaman Organisasi
Pekerjaan
Terimakasih kepada Ka Nirmala yang telah mengirimkan karya tulisnya ke Gema-IKM.co.nr. Kami tunggu karya tulis selanjutnya |



0 comments:
Post a Comment