Assalamu’alaikum,wr,wb
Haloo sahabat apakabar hari ini? Semoga selalu
diberikan kesehatan dan keselamatan serta keberkahan oleh Allah SWT Aamiin. Nah
berjumpa lagi kita nih di edisi berita religi dan berita kali ini wajib banget
kamu baca, terutama bagi msulimah-muslimah nih yang sudah terlalu lama gundah
dalam sebuah penantian akan jodohnya, mau tau lebih lanjut? Yuk simak!
Kapan nikah.....................?
Bagi sebagian orang mungkin pertanyaan di atas
sangatlah sensitif. Apalagi bagi seorang pria ataupun wanita yang usianya sudah
berkepala 3, pasti pertanyaan itu bisa membuatnya marah dan uring-uringan. Orang
tua pun sama, seolah tak mengerti kegundahan yang dirasa anaknya. Desakan agar
sang anak segera mengakhiri masa lajang bertubi- tubi dialamatkan. Kegelisahan
belum mendapatkan jodoh lebih sering kita temui menerpa muslimah.
Sementara di luar sana, teman dan kerabat tak
henti bertanya kapan si lajang akan menikah? Tapi sebagai seorang muslim kita
harus menghadapi semua itu sesuai dengan ajaran islam. Agar kita tida terjebak
dalam kegundahan hati dan pikiran kalau anak sekarang bilang "Galau" Sebagaimana kematian, rejeki, dan ajal, jodoh
adalah rahasia Allah swt yang tidak dapat kita duga kedatangannya. Banyak
muslim dan muslimah menjadi resah tak berujung, saat usia kian bertambah namun
jodoh tak juga datang menghampiri.
Ketika ditanya, apakah standar calon suami yang
diharapkan terlalu tinggi......? Rata-rata jawabannya adalah tidak. Sebab
seiring bertambahnya usia, muslimah menjadi lebih arif dalam menentukan
kriteria calon pasangan hidup. Ia tak lagi mendamba arjuna yang serba sempurna.
Melainkan, standar idealis itu telah berubah menjadi realistis.Apapun resiko
yang mungkin terjadi, akan siap dihadapi jika memang seseorang yang benar-benar
apa adanya segera datang. Namun, jika standar tinggi tak lagi dipatok dan seseorang itu
tetap belum menampakkan tanda-tanda kedatangannya, salahkah muslimah jika belum
juga menggenapkan setengah dien-nya?
Kuncinya: Tawakal
Seseorang yang belum juga menemukan jodohnya,
hendaknya tidak serta merta berputus asa. Sebab sebagaimana kehidupan itu
sendiri, jodoh adalah benar-benar sesuatu yang menjadi urusan Allah. Keyakinan
bahwa janji Allah adalah pasti, mutlak terpatri di hati para muslimah. Maka,
ketika hati merasa resah, perlu kiranya mengingat-ingat firman Allah swt, “Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir.” (QS. Ar- Rum : 21)
Bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan
adalah kekuasaan Allah. Maka, yang perlu diperkuat adalah keyakinan kepada
Allah. Bahwa jodoh setiap insan insya Allah pasti ada.Siapa dia, ada di mana,
dan kapan akan datang? Adalah rahasia Allah yang hanya Allah saja yang tahu.
Satu keyakinan, bahwa Allah hanya akan
mengirimkan orang yang tepat pada saat yang tepat dalam pandangan Allah.
Tawakal yang dapat berbuah manis hanyalah tawakal yang dapat melahirkan ikhtiar
yang sungguh-sungguh dalam menemukan pendamping hidup.Bukan tawakal orang yang
hanya diam terpaku menanti jodoh yang akan tiba- tiba datang. Akan tetapi,
tawakal ialah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw,
“Ikatlah dahulu untamu, baru kamu bertawakal,”
kepada seorang sahabat yang bergegas masuk masjid
dengan meninggalkan untanya dalam keadaan tidak diikat dengan alasan bertawakal
kepada Allah. Begitulah tawakal. Penyerahan urusan secara total kepada Sang
Pemilik Segala Urusan tanpa meninggalkan ikhtiar dengan sungguh-sungguh sesuai
apa yang telah disyariatkan. Jika sudah demikian, tak ada lagi resah, gelisah,
juga galau yang mendera meski dalam usia menjelang senja namun jodoh tak jua
tiba.
Jangan Abaikan Evaluasi
Alur kehidupan ini sebenarnyalah telah digariskan
oleh Allah Yang Maha Menentukan. Ada syariat yang menuntun pada jalan
keselamatan selama menjalani kehidupan di dunia. Tak terkecuali skenario Allah
bernama pernikahan. Hanya saja, ketika perjalanan hidup kita rasa ada yang
salah, bukanlah taqdir yang salah, melainkan kita sendiri yang harus
mengevaluasi diri.
Adakah yang kita jalani dalam kehidupan ini telah
benar-benar sesuai dengan rambu-rambu yang Allah gariskan?
Atau ada ambisi dan ego pribadi yang menjadikan
skenario hidup kita tampak tak sesuai harapan?
Berkaitan dengan pendamping hidup yang terasa
‘Antara ada dan tiada’, berikut diantara hal-hal yang mesti menjadi bahan
evaluasi para muslimah:
1. Terlalu Fokus Dalam Karir
Tak dapat dipungkiri, ada diantara para muslimah
yang dalam kesehariannya menjadi penopang perekonomian keluarga. Atau ada juga
yang dari segi ekonomi termasuk dari kalangan keluarga yang kurang mampu.
Sehingga untuk menutup biaya hidup, ia dituntut untuk fokus dalam karir. Hal
ini membuat sebagian muslimah dalam usia mudanya benar-benar memfokuskan diri
untuk bekerja dan bekerja. Sehingga ikhtiar ke arah pernikahan menjadi tidak
terfikirkan. Ketika usia kian bertambah tua, biasanya kesadaran ke arah
tersebut baru mulai ada.
2. Kriteria Yang Terlalu Tinggi
Ingin memiliki pendamping hidup yang beriman,
tampan, dan mapan adalah dambaan setiap muslimah. Ketika usia masih terbilang
muda, banyak diantara muslimah yang mematok kriteria yang demikian ideal bagi
lelaki yang ingin menjadi pendamping hidupnya. Akibatnya, laki-laki yang
sebenarnya telah siap menikah dan ingin mengkhitbah menjadi mundur teratur
begitu tahu sang muslimah memasang sederet kriteria yang tinggi
mengawang-awang. Padahal Islam dengan segenap aturannya yang sempurna telah
dengan lugas memberikan batasan-batasan kriteria laki-laki yang pantas untuk
menikah. Bahkan jika laki- laki itu tak berharta melimpah sekalipun.
Sebagaimana firman Allah swt,
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian
diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu
yang lelaki dan hamba- hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah
akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya)
lagi Maha mengetahui.” (QS. An Nuur:32)
3. Mengabaikan Jalan Menemukan Pasangan
Melalui jalan mana jodoh itu akan datang, hanya
Allah yang tahu. Namun seseorang tetap memerlukan eksistensi akan keberadaan
diri serta kebaikan- kebaikannya. Tak ada yang tahu ada seorang muslimah
shalihah yang peduli dengan dakwah dan juga cakap berumah tangga, jika sang
muslimah membatasi diri dari pergaulan, terutama dengan orang-orang shalih. Maka,
banyak bergaul dan beraktivitas dengan orang-orang shalih mutlak dilakukan oleh
siapapun, tak terkecuali para muslimah. Sebab, jodoh yang baik akan ditemukan
di lingkaran orang-orang yang juga baik, dan sama-sama melakukan aktivitas
kebaikan.
Saatnya Berdamai dengan Keadaan
Segenap usaha disertai penyerahan diri secara
total kepada Allah telah dilakukan. Evaluasi pun telah dilaksanakan hingga
melahirkan suatu perubahan diri. Namun, jodoh yang dinanti tak jua datang
menghampiri. Jika itu terjadi, tetaplah berbaik sangka kepada Allah. Sebab,
Allah akan mengikuti prasangka hamba-Nya. Dan jangan sedikit pun kita berputus
asa dari rahmat Allah ketika sesuatu yang menjadi harapan tak kunjung berwujud
menjadi kenyataan.
Kuatkan terus menerus dalam hati, bahwa Allah tak
pernah ingkar janji. Dan itu akan menjadi keistimewaan tersendiri di mata Allah
yang dapat membuahkan ganjaran pahala. Yang tak kalah penting adalah berdamai
dengan keadaan dan terus berpikir positif. Bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan
sekecil apapun usaha hamba-Nya dalam meraih sesuatu yang mengantarkan pada
kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat.
Termasuk usaha menemukan pasangan untuk
bersama-sama menggenapkan setengah dien melalui sebuah pernikahan barokah. sekian untuk edisi berita religi kali ini semoga bermanfaat yaa . (Ar.
Hakim)
Wallahu’alam …


0 comments:
Post a Comment